About

free counters
  • MUHAMMAD MAKSUM AL-RASYID

    Welcome to my Blog

  • MUHAMMAD MAKSUM AL-RASYID

    Please read as much....

  • MUHAMMAD MAKSUM AL-RASYID

    I hope my post is useful for you.....

  • MUHAMMAD MAKSUM AL-RASYID

    Thanks you for reading my blog...

Tampilkan postingan dengan label Parasitologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parasitologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juni 2012

Konsep Dasar Pengertian Parasitologi dan Helmintologi

Posted by Unknown on 08.46


Konsep dasar:
            Pada dasarnya ilmu parasitologi adalah mempelajari mengenai “simbiosis”, terutama bentuk suatu organisme yang bersifat parasit. Dua organisme yang hidup bersama dan menguntungkan bagi salah satu atau kedua simbiont tersebut. Biasanya kedua simbiont adalah merupakan organisme yang berbeda spesies, tetapi juga dapat dari spesies yang sama.
            Dari kehidupan yang simbiosis tersebut, dapat dikelompokkan dalam kategori yang berbeda menurut hubungan antara kedua simbiont tersebut. Sehingga ada beberapa jenis simbiosis tersebut yaitu:
Phoresis:
            Adalah sistem simbiosis dimana satu simbiont membawa simbiont lainnya dan secara fisiologik mereka saling bergantung. Biasanya salah satu “phoront” lebih kecil dari lainnya. Misalnya : spora jamur menempel pada kaki lebah.
Mutualisme:
            Adalah simbiosis yang saling menguntungkan, dimana organisme satu secara fisiologik bergantung pada organisme lainnya dimana satu organisme tidak dapat hidup terpisah dari organisme lainnya. Misalnya: Protozoa dan fauna yang hidup didalam usus rayap.
Commensalisme:
            Adalah simbiosis dimana salah satu organisme hidup dalam organisme lainnya tetapi tidak mempengaruhi secara fisiologik pada organisme yang ditempati (hospes), tetapi organisme tersebut tidak dapat hidup diluar hospes. Ada dua bentuk yaitu: ekto commensalisme (hidup diluar tubuh hospes) dan endocommensalisme (hidup didalam tubuh hospes). Misalnya: Entamoeba ginggivalis, hidup dalam mulut orang. Organisme tersebut memakan bakteri, sisa makanan, sel epitel yang mati, tetapi tidak menyebabkan sakit pada hospes. Organisme tersebut tidak dapat hidup ditempat lain.
Parasitisme
            Organisme yang hidup di dalam hospes dan menyebabkan sakit pada hospes. Ada dua bentuk yaitu ektoparasit dan endoparasit.

Hospes/host/induk semang/inang

Hospes definitif:
            Adalah hospes dimana parasit hidup dapat mencapai kedewasaan dan bereproduksi.
Hospes intermediate:
            Adalah hospes dimana parasit hidup tidak mencapai kedewasaan (sebagian dari daur hidupnya).
Paratenik:
            Parasit yang masuk dalam hospes, tetapi tidak berkembang dan tetap hidup dan dapat menginfeksi ke hospes difinitif (Dioctophyma renale).
Hospes spesifik:
            Parasit dapat hidup dan berkembang biak hanya dalam satu atau dua hospes saja (Taenia solium).
Hospes reservoar:
            Hewan yang secara normal terinfeksi parasit (tidak sakit), tetapi parasit tersebut dapat menginfeksi orang dan menimbulkan sakit.

HELMINTOLOGI

Class
Ordo
Famili
Spesies
Organ
Nematoda
Ascaridata
Ascaridae
Ascaris lumbricoides
Usus

Oxyurata
Oxyuridae
Enterobius vermiculatus
Usus

Trichurata
Trichuridae
Trichuris trichura
Gastro-intestinal

Filariata
Onchocercidae
Wucheria bancrofti
Saluran limfe



Onchocerca volvulus
Kulit



Loa- loa
Sub cutaneus
mata

Dioctophymata
Dioctophymati-dae
Dioctophyma renale
ginjal

Rhabditata
Rhabdiasidae
Strongyloides stercorales
Paru, intestinal

Strongylata
ancylostomidae
Strongyloides spp
Usus, paru



Ancylostoma duodenale
Usus, paru
Trematoda
Strigeata
Schistosomati-dae
Schistosoma haematobium
Vena vesica urinaria



S. mansoni
Vena porta hepatis, usus besar



S. japonicum
Usus kecil

Echinostomata
Echinostomati-dae
Echinostoma revolutum
Interstitial

Plagiorchiata
Troglotremati-dae
Paragonimus westermanii
Paru, otak dan viscera

Opisthorchiata
Opisthorchii-dae
Clonorchis sinensis
Hati


Cestoda
Pseudophylli-dea
Diphyllobotrii-dae
Diphylobotrium latum


Cyclophylidea
Taeniidae
Taeniarhynchus saginatus (dewasa); Cysticercosis bovis
(larva)
Usus manusia



Daging sapi




Taenia solium
(dewasa)
Cysticercus cellulosae
(larva)
Usus manusia


Daging babi



Echinococcus granulosus (dewasa)
Hydatidosis (cysta)




Echinococcus multilocularis (dewasa)
Hydatid multilocularis (larva)



Hymenolepidi-dae
Vampirolopsis nana




Hymenolepis diminuta



Wucheria brancofti (Filariasis/elephantiasis)

Posted by Unknown on 03.54

Klasifikasi
Kingdom  : Animalia
Phylum  : Nematoda
Class  : Secernentea
Order  : Spirurida
Suborder  : Spirurina
Family  : Onchocercidae
Genus  : Wuchereria

      Cacing ini menyebabkan penyakit disebut “Elephantiasis”, karena pembengkakan yang luar biasa pada bagian tubuh manusia (terutama kaki). Penyakit ini juga disebut “filariasis” yang menyerang orang daerah Afrika Tengah, delta sungai Nile, Turki, India, Asia Tenggara, India Timur, Kepulauan Oceania, Australia dan Amerika Selatan. Filariasis menyebabkan gangguan fisiologi yang besar pada tentara Amerika yang bertugas di Pasifik pada Perang Dunia ke II. Cacing berukuran panjang 40 mm dan diameter 100 mm pada cacing jantan; cacing betina panjang 6-10 cm dan diameter 300 mm.


Daur hidup
      Cacing betina bersifat ovovivipar dan mengeluarkan ribuan mikrofilaria disekitar cairan limfe. Mikrofilaria kemudian bergerak kedalam jaringan, tetapi kebanyakan terikut aliran darah melalui duktus thoracalis. Secara periodik mikrofilaria berada dalam sistem darah perifer dan kemudian menghilang dari lokasi tersebut. Jumlah paling besar ditemukan mikrofilaria dalam darah perifer adalah pada malam hari jam 10 sampai jam 2 pagi. Pada waktu itulah nyamuk menghisap darah penderita sehingga banyak mikrofilaria terbawa oleh nyamuk tersebut. Di dalam saluran pencernaan nyamuk selama 2-6 jam, kemudian menembus dinding lambung menuju menuju otot bagian dada nyamuk dan mengalami moulting, 2 hari kemudian mengalami fase ke 2 dan berada berbagai organ. Kemudian berkembang menjadi bentuk filaria (filariform), filaria muda dengan ukuran 1,4-2 mm dan merupakan bentuk infektif ini bergerak melalui aliran darah nyamuk menuju labium atau proboscis dan akan mengeluarkan filaria pada waktu nyamuk menggigit kulit manusia dan mencapai pembuluh darah limfe akan menjadi dewasa.

Hospes intermedier
      Nyamuk dalam genus: - Anopheles, Aedes, Culex, Mansonia. Nyamuk tersebut pada umumnya menghisap darah pada waktu malam hari.

Patologi
      Pathogenesis dari filariasis sangat bergantung pada reaksi radang dan respon imun dan hal tersebut juga bergantung pada respon terhadap cacing dewasa terutama cacing betina. Ada 3 fase gejala klinis yaitu:
-          fase inkubasi
-          fase akut atau fase inflamatory (pembengkakan)
-          Fase obstruksi atau fase komplikasi yang disebabkan oleh lympoedema kronik.
Fase inkubasi adalah fase antara waktu infeksi sampai terlihatnya mikrofilaria dalam darah. Fase tersebut biasanya tidak terlihat gejala tetapi akan terlihat pembengkakan pada kelenjar limfe yang disertai demam ringan.
 Fase akut inflamasi kemudian terlihat waktu cacing betina mencapai kedewasaan dan mulai mengeluarkan mikrofilaria. Pembengkakan kelenjar limfe terjadi pada separo bagian bawah tubuh disertai demam dan toksemia. Kelenjar limfe yang terkena akan membengkak dan sakit. Gejala yang sering dijumpai adalah “inguinal limfadenitis” (pembengkakan kelenjar limfe daerah inguinal), “orchitis” (pembengkakan scrotum disertai rasa sakit), “hydrocele” (cairan limfe masuk kedalam tunica vaginalis testis), “epdedymitis”(pembengkakan epidedymis). Kondisi tersebut disebut dengan elephantiasis, dimana penderita akan mengalami demam sampai mencapai suhu 40oC dalam selang waktu beberapa jam sampai hari. Perubahan pada tingkat histologi akan terlihat proliferasi sel pada daerah limfatik dengan adanya infiltrasi sel leukosit seperti polymorfonuklear dan eosinofil disekitar limfatik dan vena. Sel radang yang paling banyak dijumpai adalah limposit, sel plasma dan eosinofil. Terbentuk abces mengelilingi cacing yang yang mati yang diikuti infeksi sekunder oleh bakteri. Mikrofilaria akan menghilang dari sirkulasi darah perifer selama atau setelah fase akut.
Fase obstruksi ini sangat nyata ditandai dengan varices pada scrotum, hydrokel dan elephantiasis. Varices limfe adalah “varicose” saluran limfe, dimana cairan limfe tidak dapat mengalir kembali karena terbendung oleh cacing sehingga saluran tersebut membesar/melebar, menyebabkan “chyluria” (cairan limfe dalam urine) yang merupakan gejala khas pada penyakit filariasis. “chyle” tersebut menyebabkan uruine berwarna keputihan seperti susu, dan kadang ada warna kemerahan karena darah juga sering dijumpai. Pada kondisi obstruksi kronis daerah yang menderita akan terisi oleh jaringan ikat atau jaringan parut (scar), setelah pembengkakan selesai. Tetapi kadang cacing yang mati diselimuti oleh jaringan keras (mengalami kalsifikasi).
Bilamana terjadi infeksi berulang pada fase akut inflamasi ini, maka proses elephantiasis ini kembali terjadi. Hal ini disebut “limfadenitis kronis”, banyak jaringan ikat terbentuk sehingga kulit mengalami penelbalan. Pada pria organ yang mengalami elephantiasis adalah scrotum, kaki dan tangan. Pada wanita pada kaki dan tangan, sedangkan pada vulva dan payudara kadang menderita. Organ yang mengalami elephantoid biasanya terdiri jaringan ikat, jaringan granulomatif dan lemak. Kulit menjadi menebal dan pecah-pecah, infeksi sekunder oleh bakteri dan jamur dapat terjadi. Mikrofilaria pada daerah tersebut tidak ditemukan.
Diagnosis
            Dengan menemukan mikrofilaria dalam darah adalah disgnosis yang tepat. Dengan menggunakan ulas darah tebal dilakukan pada saat cacing muda berada dalam darah perifer. Dengan radiasi sinar x, dapat melihat cacing yang mati mengalami kalsifikasi. Filariasis perlu diwaspadai bila penderita menunjukkan gejala setelah 3 bulan baru datang di daerah endemik.

Pengobatan
- diethylcarbamazin
-          Metronidazole
Pada kaki yang membengkak dapat dilakukan pembalutan yang ketat untuk menekan cairan limnfe keluar dari daerah yang membesar. Hal tersebut secara perlahan dapat mengecilkan pembesaran daerah tersebut hingga mendekati normal, tetapi bila sudah terbentuk jaringan ikat (kronis), susah dapat kembali normal. Dengan jalan operasi pengambilan jaringan elephantoid dapat dilaksanakan.
Pencegahan utama ialah menghindari gigitan nyamuk didalam daerah endemik. Penggunaan repelant, obat nyamuk dan sebagainya harus dilakukan bila orang datang ke daerah endemik.

Parasit yang mirip
            Brugia malayi, dilaporkan mirip dengan W. brancofti, baik gejala yang ditimbulkan maupun daur hidupnya. Parasit ini menyerang orang daerah India, Indonesia, Asia Tenggara, Filipina dan Srilangka. Ukuran cacing hanya separo dari W. bracofti.
 

Onchocerca volvulus

Posted by Unknown on 03.18


            Infeksi cacing ini telah dilaporkan di daerah Afrika, Arab, Guatemala, Meksiko, Venezuela dan Colombia.  

Klasifikasi
Kingdom: Animalia
Phylum: Nematoda
Class: Secernentea
Order: Spirurida
Family: Onchocercidae
Genus: Onchocerca
Species: O. volvulus
   
Morfologi
Ukuran cacing betina 33-50mm x 270-400mikron
Ukuran cacing jantan 19-42mm x 130 mikron
Bentuknya seperti kawat putih, transparan
Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria dalam  jaringan subkutan, kemudian meninggalkan jaringan subkutan menuju kulit.
Ukuran mikrofilaria 285x6 mikron tidak bersarung dan bagian kepala dan ekor tidak ada inti
 
Daur hidup

            Cacing dewasa berlokasi dibawah kulit dan akan terbentuk kapsula karena reaksi tubuh hospes. Bilamana berlokasi dekat tulang seperti persendian atau diatas tulang kepala, nodule yang permanen akan terjadi.
            Mikrofilaria berada dalam kulit kemudian terhisap oleh lalat penghisap darah/lalat hitam/bleck fly (Simulium damnosum) sebagai hospes intermedier. Bagian mulut lalat tidak menembus terlalu dalam, berisi cairan kental yang penuh dengan mikrofilaria. Fase pertama dari larva cacing bergerak dari saluran cerna lalat ke otot dada. Kemudian mengalami moulting yang kemudian moulting lagi menjadi larva infektif menjadi bentuk filaria (filariform), filaria muda bergerak kearah mulut lalat dan akan menginfeksi hospes definitif baru. Filaria tumbuh menjadi dewassa tinggal dibawah kulit selama kurang dari 1 tahun. Cacing biasanya berpasangan. Cacing yang berada dibawah kulit atau dibawah kulit yang lebih dalam akan memproduksi mikrofilaria. Mikrofilaria kemudian menginvasi kepermukaan kulit dan akan terhisap oleh hospes intermedier.

Patologi
Ada dua hal yang menyebabkan efek patologi yaitu: cacing dewasa dan mikrofilaria. Dari kedua bentuk cacing tersebut, bentuk cacing dewasa tidak begitu patogenik dan bahkan kadang tidak menunjukkan gejala sakit. Tetapi pada kondisi yang buruk cacing didalam subkutan membentuk nodule disebut “Onchocercomas”, terutama yang menetap didekat tulang. Didaerah Amerika Tengah kebanyakan penderita terdapat nodule diantara tulang rusuk dan paha dan juga didaerah leher dan kepala. Nodule tersebut berbentuk benigna dan relatif tidak sakit. Jumlah nodule berfariasi dari hanya satu sampai ratusan. Nodule tersebut terutama berisi jaringan serabut kolagen yang mengelilingi beberapa cacing dewasa. Nodule akan mengalami degenerasi dapat membentuk abses atau kalsifikasi.
Hadirnya mikrofilaria didaerah kulit menyebabkan dermatitis yang berat yang menyebabkan reaksi alergik dan efek toksik disebabkan matinya cacing muda. Gejala pertama adalah gatal-gatal yang menyebabkan luka dn terinfeksi oleh bakteri (infeksi sekunder). Kemudian diikuti dispigmentasi kulit lokal atau lebih luas, kemudian diikuti penebalan kulit dan kulit menjadi pecah-pecah. Gejala menyerupai avitaminosis A, hal tersebut diduga parasit berkompetisi dengan metabolisme vitamin A.
Gejala yang lebih lanjut kulit kehilangan elastisitasnya. Depigmentasi berkembang menjadi daerah yang lebih luas terutama daerah kaki. Hal tersebut dapat dikelirukan dengan penyakit lepra. Pada kondisi yang lebih buruk lagi bila terjadi komplikasi dimana mikrofilaria mencapai kornea. Hal tersebut dalat menimbulkan inflamasi pada sklera atau bagian putih dari bola mata. Kemudian diikuti penimbunan jaringan ikat yang mengakibatkan vaskularisasi dari kornea yang dapat mengganggu penglihatan. Terjadinya penimbunan jaringan ikat (fibrous tissue) mengakibatkan pasien buta total.
Diagnosis
            Diagnosis yang akurat dengan menemukan mikrofilaria dalam kulit. Hal tersebut dilakukan dengan mengambil sepotong kulit dengan gunting (daerah mana saja) kemudian ditaruh diatas slide kaca dan diberi tetesan garam fisiologis kemudian diperiksa dibawah mikroskop akan terlihat mikrofilaria. Diagnosis lebih spesifik dan sensitif juga dapat dilakukan dengan sistem imunodiagnostik dengan menggunakan haemaglutination tes.

Pengobatan
            Ada dua bentuk pengobatan yaitu dengan operasi dan kemoterapi. Eksisi nodule didaerah kepala dapat mengurangi terjadinya invasi mikrofilaria kedaerah mata dan mengurangi infeksi baru dalam populasi.
Pengobatan dengan “suramin” dapat membunuh cacing dewasa sehingga dapat menghilangkan mikrofilaria. Nodule harus diambil karena cacing yang mati karena pengobatan dapat menimbulkan abses pada nodul tersebut. “Dietilkarbamazin” dapat membunuh mikrofilaria dengan cepat tetapi tidak membunuh cacing dewasa. Tetapi bila mikrofilaria mati dengan cepat maka mikrofilaria yang mati akan menimbulkan reaksi tubuh dan kulit dapt mengkerut. Disamping itu dapat terjadi shock anapilaktik yang disebabkan oleh reaksi tubuh terhadap cacing yang mati tersebut. Obat ini lebih baik diberikan bersama antihistamin atau cortison untuk mencegah efek samping sehingga memperoleh hasil yang baik.
Pencegahan dapat dilakukan dengan memberantas hospes intermedier lalat Simulium sp. Pemebrantasan dilakukan dengan insektisida yang sesuai.

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin

Search Site

 
  • Widget Islami


    Warna background


    music